Sabtu, 01 Februari 2020

In the past there were kingdoms in the archipelago, both large and small scale


In the past there were kingdoms in the archipelago, both large and small scale. In Banjarmasin precisely Muara Kuin stood a Kingdom. In the narrative received by the people from generation to generation told in the kingdom there was a governor who was very powerful, brave and mighty named Datu Pujung. Datu Pujung is a mainstay and is a stronghold against people who want to master or do evil to the Kingdom of Kuin. One time as told in the story of the old people, there came an English ship carrying passengers or crew who were mostly Chinese. They are known to want to stay and conquer the kingdom of Kuin. To carry out their intentions, of course they have to deal with Datu Pujung. The terms and conditions of Datu Pujung if you want to rule the kingdom of Kuin must be able to pass the specified test, which can cut large logs without tools or weapons. It turned out that the requirements of the Datu Pujung could not be fulfilled by those who wanted to rule the kingdom. On the other hand, Datu Pujung showed his magic and easily split the big wood without tools. Datu Pujung proved to the people who came in the ship that the requirements he put forward were not nonsense or impossible. Due to the immigrants who were on the English ship could not meet the specified requirements, then Datu Pujung was asked to cancel the intention to control the kingdom of Kuin and to return to his home country. But they insisted they wanted to stay and control the kingdom of Kuin in accordance with the expected goals. Because they continued to force their will, finally Datu Pujung with his power sank the ship and all the passengers who were in it. After all this time, the wreck of the ship that was on the surface of the water was blocking every drift log. From day to day more piles of wood are stuck and then trees grow into an island in the middle of a river. On this island overgrown with trees has also been seized by birds and nesting there.








Dahulu di antero nusantara terdapat kerajaan-kerajaan, baik yang berskala besar maupun kecil. Di Banjarmasin tepatnya Muara Kuin berdiri sebuah Kerajaan. Dalam penuturan yang diterima masyarakat secara turun temurun diceriterakan pada kerajaan tersebut ada seorang patih yang sangat sakti, berani dan gagah perkasa bernama Datu Pujung.
Datu Pujung ini menjadi andalan dan merupakan benteng pertahanan terhadap orang-orang yang ingin mengusai atau berbuat jahat pada Kerajaan Kuin. Suatu ketika seperti yang dituturkan dalam cerita para orang tua dahulu datang sebuah kapal Inggeris dengan membawa penumpang atau awak kapal yang kebanyakan orang Cina. Mereka diketahui ingin tinggal dan menguasai kerajaan Kuin. Untuk melaksanakan niat mereka itu tentu saja harus berhadapan dengan Datu Pujung. Ketentuan dan persyaratan dari Datu Pujung kalau ingin mengusai kerajaan Kuin harus dapat melewati ujian yang ditetapkan, yaitu bisa membelah kayu besar tanpa alat atau senjata. Ternyata persyaratan dari Datu Pujung ini tidak dapat dipenuhi oleh mereka yang ingin menguasai kerajaan tesebut. Sebaliknya Datu Pujung memperlihatkan kesaktiannya dan dengan mudah membelah kayu besar itu tanpa alat. Datu Pujung membuktikan kepada orang-orang yang datang berkapal itu bahwa persyaratan yang diajukannya bukanlah omong kosong atau sesuatu yang mustahil.
Disebabkan para pendatang yang ada di dalam kapal Inggeris itu tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka oleh Datu Pujung diminta untuk membatalkan niat menguasai kerajaan Kuin dan agar kembali ke negeri asalnya Namun mereka bersikeras ingin tinggal menetap dan menguasai kerajaan Kuin sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena mereka tetap memaksakan kehendaknya, akhirnya Datu Pujung dengan kesaktiannya menenggelamkan kapal beserta seluruh penumpang yang ada didalamnya.
Setelah sekian lama, bangkai kapal yang ada dipermukaan air itu menghalangi setiap batang kayu yang hanyut. Dari hari ke hari semakin bertumpuk kayu-kayu yang tersangkut dan kemudian tumbuh pepohonan yang menjadi sebuah pulau di tengah sungai. Pada pulau yang ditumbuhi pepohonan ini telah pula dihinggapi oleh burung-burung dan bersarang disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGEMBANGKAN KECERDASAN SOSIAL EMOSIONAL BAGI SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AQIDAH AKHLAK DI SEKOLAH MADRSAH TSANAWIYAH MIFTAHUL KHAIRIYAH KOTA BANJARBARU

A.     Alasan Memilih Judul Ada beberapa alasan yang mendasari penulisan pemilihan judul penelitian ini, yaitu : Kecerdasan Spritual d...