Henry
Dunant
|
Henry Dunant
|
|
|
Dunant sebagai seorang pria tua
|
|
|
Lahir
|
|
|
Meninggal
|
|
|
Kebangsaan
|
|
|
Pekerjaan
|
aktivis sosial, pebisnis, penulis
|
|
Dikenal atas
|
Pendiri Palang
Merah
|
|
Orang tua
|
Jean-Jacques Dunant
Antoinette Dunant-Colladon |
|
Penghargaan
|
Nobel Perdamaian (1901)
|
Jean Henri Dunant (lahir 8 Mei 1828 – meninggal 30 Oktober 1910 pada umur 82 tahun), yang juga dikenal dengan nama Henry
Dunant, adalah pengusaha dan aktivis sosial Swiss. Ketika melakukan
perjalanan untuk urusan bisnis pada tahun 1859, dia menyaksikan akibat-akibat
dari Pertempuran Solferino, sebuah lokasi yang
dewasa ini merupakan bagian Italia. Kenangan dan pengalamannya itu dia tuliskan
dalam sebuah buku dengan judul A Memory of Solferino (Kenangan Solferino), yang menginspirasi pembentukan Komite Internasional Palang Merah (ICRC)
pada tahun 1863. Konvensi Jenewa 1864 didasarkan pada
gagasan-gagasan Dunant. Pada tahun 1901, dia menerima Penghargaan
Nobel Perdamaian yang pertama, bersama dengan Frédéric Passy.
Masa muda dan pendidikan Dunant
Dunant lahir di Jenewa,
Swiss, putra pertama dari pengusaha Jean-Jacques Dunant dan istrinya Antoinette
Dunant-Colladon. Keluarganya adalah penganut mashab Kalvin (''Calvinist'') yang taat
serta mempunyai pengaruh yang signifikan di kalangan masyarakat Jenewa. Kedua
orangtuanya menekankan pentingnya nilai kegiatan sosial. Ayahnya aktif membantu
anak yatim-piatu dan narapidana yang menjalani bebas bersyarat, sedangkan
ibunya melakukan kegiatan sosial membantu orang sakit dan kaum miskin.
Dunant tumbuh pada masa
kebangkitan kesadaran beragama yang dikenal dengan nama Réveil. Pada usia 18
tahun, dia bergabung dengan Perhimpunan Amal Jenewa (Geneva
Society for Alms Giving). Pada tahun berikutnya, bersama
teman-temannya, dia mendirikan perkumpulan yang disebut ”Thursday
Association”, sebuah kelompok anak muda tanpa ikatan keanggotaan resmi yang
melakukan pertemuan rutin untuk mempelajari Bibel dan menolong kaum miskin.
Waktu senggangnya banyak dia habiskan untuk mengunjungi penjara dan melakukan
kegiatan sosial. Pada tanggal 30 November 1852, Dunant mendirikan cabang YMCA di Jenewa. Tiga
tahun kemudian, dia berpartisipasi dalam pertemuan Paris yang bertujuan
membentuk YMCA menjadi sebuah organisasi internasional.
Pada tahun 1849, ketika
berusia 21, Dunant terpaksa meninggalkan Kolese Kalvin (Collège Calvin) karena
prestasi akademisnya buruk. Dia kemudian menjadi pekerja magang di perusahaan
penukaran uang bernama Lullin et Sautter. Setelah masa magangnya
selesai dengan prestasi baik, dia diangkat sebagai karyawan bank tersebut.
Aljazair
Pada tahun 1853, Dunant
mengunjungi Aljazair, Tunisia, dan Sisilia karena ditugaskan oleh perusahaan
yang melayani “wilayah-wilayah jajahan Setif”, yaitu perusahaan bernama Compagnie
genevoise de Colonies de Sétif. Meskipun pengalamannya kurang, Dunant
berhasil menyelesaikan penugasan tersebut dengan memuaskan. Terinspirasi oleh
pengalaman perjalanan tersebut, Dunant untuk pertama kalinya menulis sebuah
buku, yang dia beri judul Notice sur la Régence de Tunis (Kisah
tentang Regensi di Tunisia). Buku ini diterbitkan pada tahun 1858.
Pada tahun 1856, Dunant
mendirikan perusahaan yang beroperasi di wilayah-wilayah jajahan luar negeri
dan, setelah memperoleh konsesi lahan dari Aljazair yang ketika itu berada di
bawah pendudukan Prancis, dia juga mendirikan perusahaan perkebunan dan
perdagangan jagung bernama Société financière et industrielle des
Moulins des Mons-Djémila (Perusahaan Keuangan dan Industri
Penggilingan Mons-Djémila). Namun, lahan dan hak atas air yang dijanjikan tidak
kunjung ditetapkan dengan jelas, sedangkan otoritas kolonial di Aljazair juga
bersikap kurang kooperatif. Oleh karena itu, Dunant memutuskan untuk meminta
bantuan secara langsung kepada Kaisar Napoleon III dari Prancis, yang ketika itu
sedang berada di Lombardi bersama pasukannya. Prancis sedang berperang di pihak
Piedmont-Sardinia melawan Austria, yang ketika itu menduduki banyak dari
wilayah yang dewasa ini bernama Italia. Markas Napoleon terletak di kota kecil
bernama Solferino. Dunant menulis sebuah buku yang isinya penuh sanjungan dan pujian bagi
Napoleon III untuk dia hadiahkan kepada kaisar tersebut. Kemudian dia melakukan
perjalanan ke Solferino untuk bertemu secara pribadi dengan Napoleon III.
Pertempuran Solferino
Dunant tiba di Solferino
pada petang hari tanggal 24 Juni 1859, tepat ketika pertempuran antara kedua
pihak tadi baru saja selesai. Sekitar 38 ribu prajurit bergeletakan di medan
tempur dalam keadaan terluka, sekarat, atau tewas, dan tidak tampak ada upaya
yang berarti yang dilakukan untuk memberikan perawatan kepada mereka. Dalam
keadaan terguncang melihat pemandangan itu, Dunant berinisiatif mengerahkan
penduduk sipil setempat, terutama kaum perempuan, untuk memberikan pertolongan
kepada para prajurit yang terluka dan sakit. Karena persediaan alat-alat dan
obat-obatan yang diperlukan tidak memadai, Dunant sendiri mengatur pembelian
material yang dibutuhkan itu serta membantu mendirikan rumah sakit darurat. Dia
berhasil meyakinkan penduduk setempat untuk melayani para korban luka tanpa melihat
di pihak mana mereka bertempur, sesuai dengan slogan “Tutti fratelli” (Kita
semua bersaudara) yang diciptakan oleh kaum perempuan dari kota Castiglione
delle Stiviere tak jauh dari tempat itu. Dia juga berhasil membujuk pihak
Prancis untuk membebaskan dokter-dokter Austria yang mereka tawan.
Palang Merah
Sekembalinya ke Jenewa
pada awal bulan Juli, Dunant memutuskan menulis sebuah buku tentang
pengalamannya itu, yang kemudian dia beri judul Un Souvenir de
Solferino (Kenangan Solferino). Buku ini diterbitkan pada tahun 1862
dengan jumlah 1.600 eksemplar, yang dicetak atas biaya Dunant sendiri. Dalam
buku ini, Dunant melukiskan pertempuran yang terjadi, berbagai ongkos
pertempuran tersebut, dan keadaan kacau-balau yang ditimbulkannya. Dia juga mengemukakan
gagasan tentang perlunya dibentuk sebuah organisasi netral untuk memberikan
perawatan kepada prajurit-prajurit yang terluka. Buku ini dia bagikan kepada
banyak tokoh politik dan militer di Eropa.
Dunant juga memulai
perjalanan ke seluruh Eropa untuk mempromosikan gagasannya. Buku tersebut
mendapat sambutan yang sangat positif. Presiden Geneva Society for
Public Welfare (Perhimpunan Jenewa untuk Kesejahteraan Umum), yaitu
seorang ahli hukum bernama Gustave Moynier,
mengangkat buku ini beserta usulan-usulan Dunant di dalamnya sebagai topik
pertemuan organisasi tersebut pada tanggal 9 Februari 1863. Para anggota
organisasi tersebut mengkaji usulan-usulan Dunant dan memberikan penilaian
positif. Mereka kemudian membentuk sebuah Komite yang terdiri atas lima orang
untuk menjajaki lebih lanjut kemungkinan mewujudkan ide-ide Dunant tersebut,
dan Dunant diangkat sebagai salah satu anggota Komite ini. Keempat anggota lain
dalam Komite ini ialah Gustave Moynier, jenderal angkatan bersenjata Swiss
bernama Henri Dufour, dan dua
orang dokter yang masing-masing bernama Louis Appia dan Théodore Maunoir. Komite ini mengadakan pertemuan yang pertama kali pada tanggal 17
Februari 1863, yang sekarang dianggap sebagai tanggal berdirinya Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Dari awal, Moynier dan
Dunant saling berbeda pendapat dan bertikai menyangkut visi dan rencana mereka
masing-masing, dan ketidaksepahaman mereka itu semakin lama semakin besar.
Moynier menganggap ide Dunant tentang perlunya ditetapkan perlindungan
kenetralan bagi para pemberi perawatan sebagai gagasan yang sulit diterima akal
serta menasihati Dunant untuk tidak bersikeras memaksakan konsep tersebut.
Namun, Dunant terus menganjurkan pendiriannya itu dalam setiap perjalanannya
dan dalam setiap pembicaraannya dengan pejabat-pejabat politik dan militer
tingkat tinggi. Ini semakin mempersengit konflik pribadi antara Moynier, yang
memakai pendekatan pragmatis terhadap proyek tersebut, dan Dunant, yang
merupakan idealis visioner di antara kelima anggota Komite itu. Pada akhirnya,
Moynier berusaha menyerang dan menggagalkan Dunant ketika Dunant mencalonkan
diri untuk posisi ketua Komite.
Pada bulan Oktober 1863,
14 negara berpartisipasi dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Komite
tersebut di Jenewa untuk membahas masalah perbaikan perawatan bagi prajurit
terluka. Namun, Dunant sendiri hanya menjadi ketua protokoler dalam pertemuan
tersebut sebagai akibat dari usaha Moynier untuk memperkecil perannya. Setahun
kemudian, pada tanggal 22 Agustus 1864, sebuah konferensi diplomatik yang
diselenggarakan oleh Parlemen Swiss membuahkan hasil berupa
ditandatanganinya Konvensi Jenewa Pertama oleh 12 negara.
Untuk konferensi ini pun, Dunant hanya bertugas sebagai pengatur akomodasi bagi
peserta.
Masa yang terlupakan
Bisnis Dunant di Aljazair
mengalami kemunduran, sebagian karena devosinya pada cita-cita humanistiknya
sendiri. Pada bulan April 1867, bangkrutnya perusahaan keuangan Crédit
Genevois mengakibatkan sebuah skandal yang melibatkan Dunant. Dia
dipaksa menyatakan pailit dan divonis bersalah oleh Pengadilan Dagang Jenewa
pada tanggal 17 Agustus 1868 atas praktik penipuan dalam kasus kebangkrutan
tersebut. Keluarganya dan banyak dari teman-temannya sangat terkena dampak dari
bankrutnya Crédit Genevois karena mereka banyak berinvestasi
dalam perusahaan ini. Masyarakat di Jenewa, sebuah kota dengan tradisi Kalvin
yang berakar mendalam, menjadi gusar dan heboh sehingga muncul seruan-seruan
agar Dunant mengundurkan diri dari Komite Internasional Palang Merah.
Pada tanggal 25 Agustus
1868, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekretaris Komite dan, pada
tanggal 8 September, dia dikeluarkan sepenuhnya dari Komite. Moynier, yang
menjadi Presiden Komite sejak 1864, berperan besar dalam menyingkirkan Dunant
dari Komite.
Pada bulan Februari 1868,
ibu Dunant meninggal dunia. Pada akhir tahun itu, Dunant juga dikeluarkan dari
YMCA. Pada bulan Maret 1867, dia meninggalkan kota kelahirannya, Jenewa, dan
tidak pernah kembali lagi ke sana. Pada tahun-tahun berikutnya, Moynier
tampaknya berusaha mempergunakan pengaruhnya untuk memastikan bahwa Dunant
jangan sampai menerima bantuan atau dukungan dari teman-temannya. Misalnya,
hadiah medali emas Sciences Morales di Pekan Raya Dunia Paris
tidak jadi diberikan kepada Dunant sesuai rencana semula, tetapi diberikan
kepada Moynier, Dufour, dan Dunant bersama-sama sehingga seluruh uang hadiah
tersebut menjadi hak Komite. Tawaran Napoleon III untuk mengambilalih separuh
dari kewajiban utang Dunant dengan syarat teman-teman Dunant menjamin pelunasan
yang separuh lagi juga digagalkan oleh usaha Moynier.
Dunant pindah ke Paris dan
hidup di sana dalam keadaan berkekurangan. Namun, dia terus berupaya mewujudkan
gagasan dan rencana kemanusiaannya. Selama berlangsungnya Perang Prancis-Prusia
(1870-1871), dia mendirikan Perhimpunan Bantuan Kemanusiaan Bersama (''Allgemeine
Fürsorgegesellschaft'') dan, tak lama setelah itu, dia mendirikan
Aliansi Bersama untuk Ketertiban dan Peradaban (''Allgemeine
Allianz für Ordnung und Zivilisation''). Dunant berargumen tentang
perlunya diadakan perundingan perlucutan senjata dan perlunya didirikan sebuah
pengadilan internasional untuk memediasi konflik internasional. Kemudian, dia
mengupayakan terbentuknya perpustakaan dunia, sebuah gagasan yang mempunyai
gema dalam berbagai proyek di kemudian hari, antara lain UNESCO.
Dalam usahanya yang tak
pernah berhenti untuk menganjurkan dan mewujudkan gagasan-gagasannya, Dunant
semakin mengabaikan situasi keuangan pribadinya sehingga dia semakin terlilit
utang dan dijauhi oleh kenalan-kenalannya. Meskipun diangkat sebagai anggota
kehormatan Perhimpunan Palang Merah Austria, Belanda, Swedia, Prusia, dan
Spanyol, dia nyaris dilupakan dalam perjalanan resmi Gerakan Palang Merah, pun
ketika Gerakan ini berkembang pesat ke negara-negara lain. Dunant hidup dalam
kemiskinan dan berpindah-pindah tempat antara 1874-1886, termasuk Stuttgart,
Roma, Korfu, Basel, dan Karlsruhe. Di Stuttgart, Dunant bertemu mahasiswa
Universitas Tübingan (Tübingen University) bernama Rudolf Müller dan
kemudian bersahabat karib dengannya. Pada tahun 1881, bersama-sama dengan
sejumlah teman dari Stuttgart, Dunant untuk pertama kalinya pergi ke Heiden,
sebuah desa peristirahatan di Swiss. Pada 1887, ketika tinggal di London, dia
mulai menerima bantuan keuangan bulanan dari sejumlah kerabat jauh. Ini
memungkinkan dia untuk hidup dalam kondisi keuangan yang lebih aman. Dunant
pindah ke Heiden pada bulan Juli 1887 dan tinggal di desa tersebut selama sisa
hidupnya. Sejak 30 April 1892, dia tinggal di rumah sakit dan panti jompo yang
dipimpin oleh Dr. Hermann Altherr.
Di Heiden, dia bertemu
dengan seorang guru muda bernama Wilhelm Sonderegger dan istrinya Susanna.
Mereka mendorongnya untuk mencatat pengalaman hidupnya. Istri Sonderegger
mendirikan cabang Palang Merah di Heiden dan, pada tahun 1890, Dunant menjadi
presiden kehormatan cabang tersebut. Dengan adanya Sonderegger, Dunant berharap
akan dapat mempromosikan gagasan-gagasannya lebih lanjut, termasuk menerbitkan
edisi baru bukunya. Namun, persahabatan mereka di kemudian hari menjadi tegang
karena Dunant melontarkan tuduhan yang tak dapat dibenarkan bahwa Sonderegger,
bersama Moynier di Jenewa, berkonspirasi menentangnya. Sonderegger meninggal
pada tahun 1904, di usianya yang baru mencapai 42 tahun. Meskipun hubungan
mereka tegang, Dunant sangat terharu dengan kematian Sonderegger yang tak
terduga-duga itu. Kekaguman Wilhelm dan Susanna Sonderegger atas Dunant, yang
tetap mereka rasakan walaupun Dunant melontarkan tuduhan tersebut, terwariskan
kepada anak-anak mereka. Pada tahun 1935, putra mereka, yaitu René, menerbitkan
kumpulan surat-surat yang ditulis Dunant kepada ayahnya.
Kembali diingat publik
Pada bulan September 1895,
Georg Baumberger, editor kepala Die Ostschweiz, sebuah surat kabar yang terbit
di St. Gall, menulis sebuah artikel tentang pendiri Palang Merah tersebut, yang
pernah bertemu dan mengobrol dengannya ketika mereka sedang berjalan-jalan di
Heiden sebulan sebelumnya. Artikel ini berjudul “Henri Dunant, pendiri Palang
Merah” (Henri Dunant, the founder of the Red Cross) dan muncul di sebuah
majalah bergambar terbitan Jerman, Über Land und Meer. Dengan segera artikel
ini direproduksi di berbagai media lain di seluruh Eropa. Artikel tersebut
mendapat sambutan hangat sehingga Dunant kembali memperoleh perhatian dan dukungan
khalayak. Dia kemudian menerima Hadiah Binet-Fendt Swiss dan sebuah surat dari
Paus Leo XIII. Berkat bantuan dari janda tsar Rusia, yaitu Maria Feodorovna,
dan donasi lain dari berbagai pihak, situasi keuangan Dunant sangat membaik.
Pada tahun 1897, Rudolf
Müller, yang saat itu sudah bekerja sebagai guru di Stuttgart, menulis sebuah
buku tentang asal-mula Palang Merah. Isi buku ini mengubah sejarah resmi Palang
Merah dengan menekankan peran Dunant. Buku ini juga mengikutsertakan teks
“Kenangan Solferino.” Dunant mulai berkorespondensi dengan Bertha von Suttner
dan menulis banyak sekali artikel dan tulisan lain. Dia terutama aktif menulis
tentang hak-hak kaum perempuan. Pada tahun 1897, Dunant memfasilitasi pendirian
“Green Cross” (Palang Hijau), sebuah organisasi perempuan yang berumur singkat
dan hanya aktif di Brussels.
Hadiah Nobel Perdamaian
Pada tahun 1901, Dunant
menerima Hadiah Nobel Perdamaian pertama yang pernah
dianugerahkan, yaitu atas perannya dalam mendirikan Gerakan Palang Merah
Internasional dan mengawali proses terbentuknya Konvensi Jenewa. Dokter militer
Norwegia, Hans Daae, yang pernah menerima satu eksemplar buku tulisan Müller
itu, mengadvokasikan kasus Dunant kepada Panitia Nobel. Hadiah tersebut adalah
hadiah bersama yang diberikan kepada Dunant dan Frédéric Passy, seorang aktivis perdamaian
Prancis yang mendirikan Liga Perdamaian dan yang aktif bersama Dunant dalam
Aliansi untuk Ketertiban dan Peradaban (Alliance for Order and Civilization).
Ucapan selamat resmi yang akhirnya diterima Dunant dari Komite Internasional
Palang Merah merepresentasikan rehabilitasi nama Dunant:
“Tak ada yang lebih layak untuk menerima kehormatan ini,
karena Andalah yang empat puluh tahun yang lalu mendirikan organisasi
internasional bantuan kemanusiaan bagi korban luka di medan tempur. Tanpa Anda,
Palang Merah, yang merupakan prestasi kemanusiaan yang agung abad kesembilan
belas, barangkali tak akan pernah diusahakan.”
Moynier dan Komite
Internasional Palang Merah secara keseluruhan juga dinominasikan untuk Hadiah
Nobel Perdamaian tersebut. Meskipun Dunant memperoleh dukungan dari kalangan
luas dalam proses seleksi, dia tetap merupakan calon yang kontroversial.
Sejumlah pihak berargumen bahwa Palang Merah dan Konvensi Jenewa justru membuat perang menjadi lebih menarik dan menggoda dengan
meringankan sebagian dari penderitaan yang ditimbulkan perang. Oleh karena itu,
Müller dalam suratnya kepada Panitia Nobel menyampaikan pendapat bahwa hadiah
tersebut perlu dibagi antara Dunant dan Passy, yang sempat menjadi calon utama
untuk menjadi satu-satunya penerima hadiah tersebut dalam perdebatan yang
terjadi selama berlangsungnya proses seleksi. Müller juga menyarankan bahwa
sekiranya Dunant dianggap layak untuk menerima Hadiah Nobel, hadiah tersebut
perlu segera diberikan kepadanya mengingat usianya yang telah lanjut dan
kondisi kesehatannya yang sudah memburuk.
Keputusan Panitia Nobel
untuk membagi hadiah tersebut antara Passy, seorang tokoh perdamaian, dan
Dunant, seorang tokoh kemanusiaan, menjadi preseden bagi persyaratan mengenai
seleksi penerima Hadiah Nobel Perdamaian yang berdampak signifikan pada
tahun-tahun berikutnya. Salah satu bagian dalam surat wasiat Nobel menyebutkan
bahwa hadiah untuk perdamaian diberikan kepada orang yang berupaya mengurangi
atau menghapuskan pasukan tetap (standing armies) atau berupaya untuk
scara langsung mempromosikan konferensi perdamaian. Inilah yang membuat Passy
secara alamiah terpilih menjadi calon penerima hadiah tersebut berkat
usaha-usahanya di bidang perdamaian. Pemberian Hadiah Nobel untuk usaha-usaha
di bidang kemanusiaan saja akan menjadi hal yang sangat mencolok, dan hal
tersebut dianggap oleh sejumlah pihak sebagai penafsiran yang terlalu luas atas
surat wasiat Nobel. Akan tetapi, satu bagian lain dalam surat wasiat Nobel
menetapkan hadiah bagi orang yang berprestasi terbaik dalam meningkatkan
“persaudaraan antarmanusia” (the brotherhood of people). Ini secara
lebih umum bisa ditafsirkan sebagai pesan bahwa usaha-usaha kemanusiaan seperti
yang dilakukan oleh Dunant itu juga terkait dengan usaha-usaha perdamaian.
Penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun-tahun berikutnya yang banyak
jumlahnya itu dimasukkan ke dalam salah satu dari dua kategori yang untuk
pertama kalinya ditetapkan oleh keputusan Panitia Nobel 1901 tersebut.
Hans Daae berhasil menaruh
uang hadiah yang menjadi bagian Dunant, sebesar 104.000 franc Swiss, di sebuah
bank di Norwegia dan mencegah uang tersebut diakses oleh para kreditor Dunant.
Dunant sendiri tak pernah memakai sedikit pun dari uang tersebut dalam
hidupnya.
Kematian dan warisan
Di antara beberapa
penghargaan lain yang diterima oleh Dunant pada tahun-tahun berikutnya ialah
gelar doktor kehormatan dari Fakultas Kedokteran University of Heidelberg, yang diterimanya
pada tahun 1903. Dunant tinggal di panti jompo di Heiden hingga akhir hayatnya.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, dia menderita depresi dan ketakutan
(paranoia) bahwa dia terus dicari-cari oleh para kreditornya dan Moynier.
Bahkan Dunant kadang-kadang mendesak juru masak panti jompo tersebut untuk
mencicipi terlebih dulu jatah makanannya di hadapan dia agar dia terlindung
dari kemungkinan diracuni. Meskipun mengaku tetap berkeyakinan Kristen, Dunant
pada tahun-tahun terakhir hidupnya menolak dan menyerang Kalvinisme dan agama
terorganisasi (organized religion) pada umumnya.
Menurut para juru
rawatnya, tindakan terakhir yang dilakukan Dunant dalam hidupnya ialah
mengirimkan satu eksemplar buku tulisan Müller kepada ratu Italia disertai
surat pengantar dari Dunant sendiri. Dunant meninggal dunia pada tanggal 30
Oktober 1910, dan kata-kata terakhirnya ialah “Kemana lenyapnya kemanusiaan?”
Dunant meninggal hanya dua bulan setelah musuh bebuyutannya, Moynier. Meskipun
ICRC menyampaikan ucapan selamat kepada Dunant atas penganugerahan Hadiah Nobel
tersebut, kedua rival ini tak pernah berrekonsiliasi.
Sesuai keinginannya,
Dunant dikuburkan tanpa upacara di Kompleks Pemakaman Sihlfeld di Zurich. Dalam
surat wasiatnya, dia mendonasikan sejumlah uang untuk menyediakan satu “ranjang
gratis” di panti jompo di Heiden tersebut, yang harus selalu tersedia untuk
warga miskin kawasan itu. Dia juga memberikan sejumlah uang, melalui akta
notaris, kepada teman-temannya dan kepada organisasi amal di Norwegia dan
Swiss. Sisa uangnya dia berikan kepada para kreditornya sehingga sebagian
utangnya lunas. Ketidakmampuan Dunant untuk sepenuhnya melunasi utang-utangnya
menjadi beban besar baginya hingga hari kematiannya.
Hari ulang tahunnya, 8
Mei, dirayakan sebagai Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia (''World Red
Cross and Red Crescent Day''). Panti jompo di Heiden yang dulu
menampungnya itu sekarang menjadi Museum Henry Dunant. Di Jenewa dan sejumlah
kota lain ada banyak sekali jalan, lapangan, dan sekolah yang dinamai dengan
namanya. Medali Henry Dunant, yang dianugerahkan setiap dua tahun oleh Komisi
Tetap Gerakan Palang Merah dan Palang Merah Internasional, merupakan penghargaan
tertinggi yang dianugerahkan oleh Gerakan.
Kisah hidup Dunant
diceritakan, dengan sejumlah unsur fiksi, dalam film D'homme à hommes (1948)
yang dibintangi oleh Jean-Louis Barrault. Masa hidup Dunant ketika Palang Merah
didirikan ditampilkan dalam film produksi bersama internasional yang
berjudul Henry Dunant: Red on the Cross (2006). Pada tahun
2010, Takarazuka Revue menggelar drama musikal berdasarkan pengalaman Dunant di
Solferino dan proses pendirian Palang Merah. Drama musikal ini berjudul ソルフェリーノの夜明け (Fajar di Solferino, atau Kemana Lenyapnya Kemanusiaan?).
Malala
Yousafzai
|
Malala Yousafzai
ملاله یوسفزۍ |
|
|
Ketua Majelis Anak Distrik Swat
|
|
|
Masa jabatan
2009–2011 |
|
|
Informasi pribadi
|
|
|
Lahir
|
|
|
Kebangsaan
|
|
Malala Yousafzai (ملاله یوسفزۍ) Malālah Yūsafzay,
(lahir 12 Juli 1997; umur 22 tahun) adalah seorang murid sekolah dan aktivis pendidikan dari
kota Mingora di Distrik Swat dari provinsi
Pakistan Khyber
Pakhtunkhwa. Dia diketahui untuk pendidikan dan aktivisme hak-hak perempuan di Lembah
Swat, di mana Taliban telah dilarang pada waktu gadis bersekolah. Pada awal tahun 2009,
saat berumur sekitar 11 dan 12, Yousafzai menulis di blognya di bawah nama
samaran untuk BBC secara mendetail tentang betapa mengerikannya hidup di bawah
pemerintahan Taliban, upaya mereka untuk menguasai lembah, dan pandangannya
tentang mempromosikan pendidikan untuk anak perempuan. Pada tahun 2014 dia
bersama Kailash
Satyarthi mendapatkan hadiah Nobel untuk bidang perdamaian 2014 untuk perjuangan mereka melawan penindasan anak-anak dan pemuda
serta untuk mendapatkan hak pendidikan bagi mereka.
Kehidupan pribadi
Malala lahir dari keluarga
bersuku Pusthun[1] dan menganut Islam Sunni. Namanya diambil dari penyair dan pejuang
wanita suku Pasthun, Malalai
dari Maiwand. Ia dibesarkan di Mingora, bersama dua adik laki-laki. Keberaniannya dalam
menulis berkat bimbingan ayahnya yang juga penyair, pemilik sekolah, sekaligus
aktivis pendidikan. Ayahnya menjalankan beberapa sekolah yang dinamai Khushal
Public School. Meskipun Malala mengaku ingin jadi dokter, Ayahnya mendorongnya
untuk menjadi politisi.
Ia mulai berbicara di
depan publik untuk memperjuangkan hak atas pendidikan pada tahun 2008.
"Berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas pendidikan!" adalah
seruan pertamanya di depan televisi dan radio[
Penembakan[
Pada tanggal 9 Oktober
2012, Yousafzai ditembak di kepala dan leher dalam upaya pembunuhan oleh
kelompok bersenjata Taliban ketika kembali pulang di bus sekolah.[3] Ia sempat dirawat di Pakistan sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di
rumah sakit di Birmingham. Pimpinan Taliban, Adnan Rasheed, mengiriminya surat yang menjelaskan
bahwa alasan penembakan adalah sikap kritisnya terhadap kelompok militan, bukan
karena ia seorang penggiat pendidikan perempuan. Lebih lanjut Rasheed
mengungkapkan penyesalannya atas kejadian ini namun tidak meminta maaf atas
penembakan yang dialami Malala Yousafzai.[4] Ia juga menyarankan Malala kembali ke Pakistan dan meneruskan
pendidikan di Madrasah bagi perempuan. Kelompok yang terdiri atas 50 ulama di
Pakistan mengeluarkan fatwa menentang penembakan ini.[6]
Aktivitas pasca penembakan
Pada tanggal 12 Juli 2013,
bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 16, Malala berpidato di depan Forum
Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. Pidatonya memuat tiga isu penting, yaitu hak perempuan, perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan. PBB juga mendeklarasikan
hari tersebut sebagai hari Malala.
Nobel Perdamaian
Pada bulan Oktober 2014,
dirinya bersama Kailash
Satyarthi mendapatkan hadiah Nobel untuk bidang perdamaian 2014 untuk perjuangan mereka melawan penindasan anak-anak dan pemuda
serta untuk mendapatkan hak pendidikan bagi mereka. Malala menjadi penerima
hadiah Nobel termuda, karena dia mendapatkan hadiah ini pada usia 17 tahun.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar